Bagi Peran

Hampir setiap manusia mempunyai lebih dari satu peran dalam hidupnya. Perkecualian ini terletak pada manusia yang merasa bahwa dia hidup berperan untuk dirinya sendiri saja tanpa mengenal perannya terhadap Tuhan (mungkin juga tidak percaya pada Tuhan). Tulisan ini tidak membahas kasus khusus tersebut.

Peran tersebut cenderung bertambah seiring bertambahnya usia sampai pada titik tertentu. Setelah seorang manusia mempunyai kesadaran atas keberadaan dirinya, dia mempunyai telah mempunyai dua peran, sebagai makhluk pribadi (berperan untuk diri sendiri) dan sebagai anak. Peran sebagai anak ini bisa terhadap orang tuanya atau terhadap orang lain yang mengasuhnya. Kemudian, setelah mengenal lingkungan sosial sekitar, akan bertambahlah peran sebagai teman. Setelah menginjak usia pendidikan, bertambah pulalah perannya sebagai seorang murid. Di sana, mungkin didapatkan peran sebagai ketua kelompok, utusan sekolah, dan sebagainya yang menyebabkan makin hari, makin banyak peran yang di dapat. Mungkin peran itu akan hilang satu, namun cenderung segera digantikan peran yang lain sampai manusia tersebut tutup usia.

Bagi yang pernah mempelajari statistik, kita mengenal adanya Distribusi Normal atau Distribusi Gauss, suatu distribusi normal yang memiliki rata-rata nol dan simpangan baku satu. Atau dengan bahasa mudahnya adalah suatu kurva mirip lonceng dimana frekuensi (bisa mewakili jumlah) paling tinggi terletak di daerah tengah. Grafik menaik pada suatu titik tertentu, kemudian turun lagi seperti gambar berikut.

Fungsi kepadatan probabilitas pada distribusi normal dari Wikipedia

Berkaitan dengan tulisan ini, ada suatu rentang masa pada manusia dimana dia mendapatkan banyak sekali peran yang biasanya terjadi pada usia-usia produktif manusia. Tentu saja tulisan ini diasumsikan manusia tersebut dianugerahi umur panjang. Bisa jadi juga nilai puncak tidak terjadi di tengah-tengah melainkan agak ke kanan/kiri, namun pada umumnya tidaklah terlalu ekstrim.

Penambahan peran berbanding lurus dengan penambahan kebutuhan istirahat dan pasokan energi. Namun, penambahan peran tersebut tentu saja tidak diiringi dengan penambahan waktu bagi manusia. Apakah manusia itu mempunyai banyak atau sedikit peran, waktunya selalu konstan (24 jam/hari, 7 hari/minggu). Oleh karena itu, manusia perlu melakukan suatu cara untuk mengatur peran-peran yang dipunyainya agar tidak saling merugikan.

Seperti kita ketahui, manusia adalah makhluk yang terbatas, mempunyai keterbatasan, dan bisa membatasi. Seperti pada traditional tripple constraint yang biasa diajarkan pada mahasiswa manajemen, manusia mempunyai juga 3 batasan itu, yakni time (waktu), scope (cakupan), dan cost (energi, usaha, pengorbanan).

The Project Management Triangle

Satu sisi dari segitiga itu tidak bisa diubah tanpa menggubah yang lain. Artinya, apabila salah satu faktor terganggu, faktor yang lain akan terganggu juga. Hal ini tentu saja mempengaruhi kualitas yang dihasilkan. Oleh karena itulah perlu upaya-upaya dari manusia untuk melakukan pembagian peran tersebut secara efektif agar tercapai suatu kondisi yang selaras.

Sebagai contoh terdekat adalah kasus saya sendiri dimana saat ini saya mempunyai peran sebagai mahasiswa tingkat akhir yang harus segera menyelesaikan Tugas Akhirnya agar cepat lulus karena ditanya orang tua (peran sebagai anak) dan tetangga (peran sebagai makhluk sosial). Di samping itu, saya juga magang di suatu kantor kampus saya (peran sebagai pekerja paruh waktu), mengerjakan beberapa project kecil-kecilan (peran sebagai pekerja bayaran), dan tak lupa juga peran sebagai orang yang mempunyai kedekatan terhadap seseorang. Di situpun, ada juga peran yang belum disebutkan diantaranya peran sebagai teman, kakak, adik, dan sebagainya. Saya rasa, semua orang pernah atau akan mempunyainya walaupun ada beberapa perbedaan dari beberapa bentuk dan segi.

Saya mengatasinya dengan suatu penjadwalan yang saya sadari sepenuhnya belumlah efektif karena saya kadang lupa. Belum lagi karena suatu keadaan out of control sleep. Dimana waktu bangun akan bergeser dan akhirnya menggeser alokasi waktu lain secara Catastrophic, yang tentu saja perlu upaya ekstra agar tidak terjadi suatu Catastrophic Failure. Saya pribadi masih perlu banyak belajar dan masukan untuk melakukan hal ini.

Mungkin pembaca bisa juga berbagi pengalaman tentang hal ini, mengingat pembaca yang lebih berpengalaman dari saya tentulah mempunyai peran lain yang lebih berat seperti sebagai pimpinan, suami/istri, orang tua, pekerja full time, mahasiswa S2 keatas, public figure, dan sebagainya.

Pemahaman karakter pasangan dan sekitarnya

Saya mendapatkan ide menulis ini dari tulisan Ibu Enny yang menjawab pertanyaan saya pada kolom komentar di blog beliau. Disamping itu, ulasan selanjutnya juga ditulis berdasar curhatan teman-teman baik saya yang men-share kabar baik dan kabar buruk permasalahannya.

Relationship banyak jenisnya. Dalam hal relationship antar cowok-cewek pun terdapat berbagai macamnya. Yang dibahas disini adalah suatu relationship yang oleh sebagian sebagian besar golongan disebut sebagai pacaran. Mungkin ada golongan lain yang mengistilahkan dengan definisi mereka sendiri-sendiri yang mana intinya adalah suatu hubungan antara cowok-cewek yang telah disepakati bersama untuk lebih saling mendekatkan diri demi tujuan bersama dan bersifat unik, tanpa diberikan kepada orang lain.

Tujuan dari relationship ini-pun juga dapat bermacam-macam. Ada yang mengatakan ini sebagai proses, just for fun, sebagai kebanggaan / prestige, ibadah, dan sebagainya. Semua itu tergantung pada pribadi dan keimanan masing-masing.

Namun bagi mereka yang menjadikan relationship ini sebagai jembatan menuju pernikahan, maka ada hal-hal yang penting dilakukan agar proses ini mendukung visi dan misinya. Salah satunya adalah pemahaman karakter. Pemahaman karakter siapakah? Menurut saya, karakter pasangan dan sekitarnya. Yang dimaksud sekitarnya adalah teman-temannya, keluarganya, organisasinya, dan sebagainya yang dapat membentuk karakter sang kekasih.

Dalam hal pemahaman karakter pasangan, frekuensi tinggi dalam bertemu belumlah menjamin terwujudnya keadaan saling memahami. Sering kita lihat, ada pasangan yang memanfaatkan waktu bertemunya hanya dengan jalan-jalan, nonton, tertawa-tawa, dan makan. Kegiatan itu akan efektif apabila dilakukan juga sharing baik kabar baik/buruk, adu argumen, atau kegiatan komunikatif lain yang mengkondisikan dapat diketahuinya sedikit demi sedikit karakter, pola pikir, selera humor, dan sifat-sifat intrinsik pasangan. Dengan demikian, semakin sering bertemu, dapat semakin paham terhadap pasangan, bukan malah semakin bingung. Dengan banyaknya interaksi dan komunikasi, akan dapat diketahui bagaimana ngambeknya pasangan, apa yang dibenci pasangan, bagaimana reaksinya kalau marah, apa yang disenanginya, dan sebagainya.

Kemudian, pemahaman karakter tidaklah cukup sampai di situ. Perlu juga diketahui siapa dan bagaimanakah teman-temannya. Sebab, seseorang juga dapat dinilai dari teman-temannya. Apa dan bagaimana kegiatan (organisasi, kegiatan di waktu luang, dsb) dia juga dapat dijadikan media pemahaman pasangan.

Kemudian hal yang tidak kalah pentingnya adalah pemahaman terhadap keluarga pasangan. Pasangan yang tidak berniat serius biasanya berkecenderungan tidak mau kontak dengan orang tua dan keluarga pasangan. Hal ini kebanyakan disebabkan agar dapat mudah melepaskan hubungan. Bagi mereka yang serius dalam hubungannya, dengan memahami keluarga pasangan, akan dapat diketahui juga bagaimana nantinya menyatukan kedua keluarga pasangan tanpa menimbulkan konflik. Sebab, masing-masing keluarga adalah unik dan mempunyai peraturan-peraturan dan norma-norma / nilai yang tidak sama. Dengan saling memahami keluarga pasangan, maka harmoni dapat dibangun.

Bagaimana jika terdapat rejection pada keluarga pasangan? Atau dengan kata lain acceptance pihak keluarga pasangan kurang? Seperti yang terjadi pada salah seorang teman saya, dimana permasalahan terlihat pada cara pandang dan persepsi antara A dan keluarga pasangannya. Hal ini memerlukan penyikapan yang bijak.

Bagi segolongan tertentu, acceptance ini dapat dipengaruhi oleh faktor suku, harta, dan nasab / keturunan, dan cara pandang. Misalkan, orang tua A tidak suka jika anaknya mendapatkan pasangan dari suku X, atau orangtuanya tidak suka anaknya mendapat pasangan golongan proletar, bisa juga orangtuanya tidak berkehendak anaknya menikah dengan keturunan keluarga B karena sudah bermusuhan turun-temurun, serta dapat juga terjadi orangtua A melarang anaknya menyukai orang yang (dianggap) berpaham F, G, atau H karena berbeda dengan cara pandang dan nilai yang dianutnya.

Apabila kondisi ini terjadi, perlu penyikapan yang tidak tergesa-gesa, pengamatan yang jeli, kesabaran, keikhlasan, dan keiinginan bersama untuk memperbaiki kondisi. Penyikapan yang tidak tergesa-gesa dimaksudkan agar kita tidak salah dalam melihat permasalahan secara global sebab bisa jadi justru kesalahan ada pada diri sendiri yang mungkin telah berbuat kesalahan / tidak sopan menurut standard umum yang tidak disadari dan fatalnya dingat-ingat oleh orang lain. Kemudian bisa jadi karena memang sifat/watak/perangainya memang tampak memusuhi padahal hatinya tidak (sangan di luar, lembut di dalam). Pengamatan yang jeli perlu dilakukan di sini dengan memperhatikan semua aspek meliputi tingkat pendidikan, pola pikir, paham / isme yang dianut, dan sejenisnya. Kesabaran diperlukan agar tidak mudah menyerah dan keikhlasan dilakukan untuk menghilangkan sifat mengeluh.

Hal terpenting dalam hal ini adalah keinginan kedua pasangan untuk memperbaiki kondisi ini dengan usaha yang nyata seperti lobi-lobi, diskusi, dan sebagainya.

Terakhir, jika memang pada akhirnya mata (kita/mereka) dibukakan dan dapat melihat permasalahan yang sebenarnya, maka hendaknya semua pihak dapat menerima dan mengerti apa yang kemudian harus dilakukan.

Komputer Kelas

Mengatur komputer mungkin adalah hal yang sepele bagi kebanyakan sebagian orang. Suatu hal yang mudah dan dapat dilakukan dengan merem. Namun, apabila kita disuruh mengatur (me-manage) setting-an banyak komputer dalam satu waktu dalam tempo yang sesingkat-singkatnya, ini baru menimulkan masalah. Beberapa kecapekan akan terasa apabila tidak dilakukan hal-hal tertentu.

Kasus ini saya alami pada waktu mengatur 40 komputer yang ada di kelas PMO. Bagaimana dapat mengatur hal-hal simple komputer-komputer itu? Hal-hal simple itu meliputi, bagaimana menghidup/mematikan komputer itu sekaligus, menginstall/menguninstall program-program, memberikan asistensi, dan sebagainya.

Maka yang saya lakukan adalah memasang VNC Server pada tiap-tiap komputer, kemudian meng-enable-kan 1 user untuk dapat remote desktop jikalau terjadi sesuatu, memasang firewall kecil-kecilan, serta menyiapkan mekanisme Wake on LAN. Tentu saja semua dilakukan dengan software yang legal. Saat ini ditulis, saya masih berkutat dengan itu.

Harmoko dan Politik

Yang saya tulis adalah artikel tentang Pak Harmoko, mantan ketua MPR era orde baru sekaligus mantan Ketua Umum Golkar. Saya menulis ini bukan karena saya simpatisan, tetapi hanya karena asal kami sama, yakni Nganjuk, kota yang cukup menyenangkan.

Beberapa waktu lalu, saya melihat Pak Harmoko telah muncul di media-media, terutama berkaitan dengan pembentukan partai baru bernama Partai Kerakyatan Nasional. Saya tidak juga membahas tentang partai ini, silakan dicari di media-media lain.

Menurut saya, Pak Harmoko ini adalah figur yang cukup misterius juga. Dapat saya katakan, beliau adalah seorang politisi ulung. Seperti kita ketahui dari arti kata politik di wikipedia, kita tidak dapat mengatakan benar-salah secara langsung dalam dunia perpolitikan, melainkan harus ada sopan-santun (etika politiknya). Karena memang, tujuan politik adalah begitu. Saya bukanlah ahli politik, namun saya dapat mengatakan bahwa langkah yang diambil Pak Harmoko (secara khusus dan secara umum para kader/mantan Golkar), adalah taktis. Mungkin, apabila semua tidak membuat partai sendiri-sendiri seperti sekarang, kekuatan Partai Golkar akan semakin besar. Terlepas dari hal partai ini sering dihujat, namun saya tetap memegang pendapat saya bahwa dalam hal politik, kita tidak bisa serta merta menyatakan ini salah itu benar dan sebaliknya, semua punya hak berpendapat dan bersikap.

Dalam hal sosial, Pak Harmoko ini menurut saya adalah seorang yang humoris juga, ini saya rasa perlu juga bagi para politisi lain. Tampang serius akan membuat warga jadi tegang seolah-olah semua masalah itu berat dan sukar diatasi. Hal-hal dalam politik perlu juga dibuat istilah-istilah yang menyenangkan, mudah diingat, dan segar, bukan justru istilah-istilah yang sukar dipahami, njlimet, terkesan kebarat-baratan. Dapat kita contoh istilah jaman dulu semacam Pentil Kecakot (Penerangan Tilpun Kecamatan Kota), yang bertujuan memajukan warga dalam bidang telekomunikasi. Mungkin istilah ini tidak perlu ditulis dalam perundang-undangan, tapi saya rasa bisa dipakai dalam istilah-istilah tak resmi agar dapat dikenal masyarakat.

Kemudian, dalam wawancara-wawancaranya, di detik.com misalnya, Pak Harmoko juga mengatakan tidak bersedia jadi Presiden ataupun Ketua Partai. Ini menunjukkan contoh juga bahwa kadang, ambisi itu perlu juga di-manage. Ambisi pribadi itu boleh-boleh saja, namun juga harus tetap memperhatikan aspek-aspek lain. Dalam hal politik, perlu juga memperhatikan kaum muda / kaum yang lebih berkompeten misalnya. Karena pada dasarnya, yang harus diutamakan adalah kepentingan publik.

Pak Harmoko juga tidak menunjukkan emosinya saat media-media sering memberitakan hal-hal yang negatif semacam “Brutus Orde Baru”, “Hari-hari omong kosong”, dan sebagainya, malah ditanggapi dengan humor. Ini juga perlu diperhatikan pemain politik kita bahwa tidak semua hal harus ditanggapi dengan emosi.

Ada banyak hal dari Pak Harmoko yang bisa dicontoh.

Telematika

Beberapa hari kemaren saya tanya ke pacar saya tentang Pak X, yang ramai dibicarakan akhir-akhir ini oleh para blogger karena statementnya. Saat itu, pacar saya menjawab, “oh, pakar telematika itu ya?”. Jreng *_*, wah.. Pak X terkenal juga rupanya. Dari situ timbul gagasan untuk menulis sedikit, apa itu telematika.

Telematika yang sering dibicarakan media akhir-akhir ini (berkaitan dengan kepakaran Pak X) adalah gabungan istilah dari Telekomunikasi dan Informatika, atau yang disebut juga dengan ICT (Information and Communication Technology), yang secara lebih spesifik berarti imu pengetahuan tentang pengiriman, penerimaan, dan penyimpanan informasi melalui piranti telekomunikasi. Jadi tidak hanya melulu berkaitan rekayasa gambar/foto.

Menurut saya, seorang bisa disebut pakar telematika jika setidaknya memahami dasar dan konsep informatika dan telekomunikasi. Pak Onno W. Purbo adalah salah satu contoh tokoh yang menurut saya sangat mumpuni dan pantas disebut sebagai pakar telematika. Dalam bidang Telekomunikasi, tentu saja sudah sering kita dengar beliau banyak berkarya di bidang VoIP (salah satunya), sedangkan dalam bidang Informatika, Pak Onno adalah salah satu tokoh dalam dunia internet Indonesia. Banyak juga tokoh-tokoh lain dari bidang IT yang menurut saya juga layak disebut “Pakar Telematika”, dan sayangnya, media kurang memperjelas akan hal ini.

Protected: Amenore

This post is password protected. To view it please enter your password below:


Waktu

Kata ini, kadang menjadi “hantu” bagi manusia, terutama mereka yang merasa “waktu mereka kurang”. Padahal, kita semua tamu, waktu ya seperti itu, 24 jam sehari (tidak tepat pas 24 jam sebenarnya), 60 menit sejam, dst.. Semua orang mendapat jatah yang sama, tidak ada yang dibeda-bedakan. Si A mendapat 23 jam sehari, si B dapat 25 jam sehari, apa jadinya dunia ini kalau begitu?

Sering saya melihat mereka (kadang termasuk saya sendiri) yang merasa waktunya kurang, sebenarnya adalah karena mereka kurang bisa-”memanage” dirinya sendiri. Manajemen ini meliputi manajemen waktu dan aktivitas. Sebagai contoh, saya sendiri adalah seorang manusia yang mempunyai banyak identitas. Maksudnya, saya adalah seorang mahasiswa, saya juga seorang teman, freelance, pengusaha (walau masih newbie), anggota keluarga, kakak, pacar, dan sebagainya.

Continue Reading »

Designed by Posicionamiento Web | Sponsored by Ganar dinero