Waktu

Kata ini, kadang menjadi “hantu” bagi manusia, terutama mereka yang merasa “waktu mereka kurang”. Padahal, kita semua tamu, waktu ya seperti itu, 24 jam sehari (tidak tepat pas 24 jam sebenarnya), 60 menit sejam, dst.. Semua orang mendapat jatah yang sama, tidak ada yang dibeda-bedakan. Si A mendapat 23 jam sehari, si B dapat 25 jam sehari, apa jadinya dunia ini kalau begitu?

Sering saya melihat mereka (kadang termasuk saya sendiri) yang merasa waktunya kurang, sebenarnya adalah karena mereka kurang bisa-”memanage” dirinya sendiri. Manajemen ini meliputi manajemen waktu dan aktivitas. Sebagai contoh, saya sendiri adalah seorang manusia yang mempunyai banyak identitas. Maksudnya, saya adalah seorang mahasiswa, saya juga seorang teman, freelance, pengusaha (walau masih newbie), anggota keluarga, kakak, pacar, dan sebagainya.

Status-status tersebut memerlukan pengalokasian waktu, tenaga, dan pengorbanan yang tentu saja berbea-beda, kadang beririsan, dan kadang saling “memakan”. Manusia yang tidak bisa mengaturnya kebanyakan akan terjebak dalam kondisi dimana dia akan mengatakan “waktu saya kurang”. Dan menurut saya ini tidak lah tepat dan tidaklah pula pantas. Sama saja ini menggugat Tuhan.

Sebenarnya yang diperlukan adalah penjadwalan diri, bukan berarti harus ditulis laksana jadwal pelajaran sekolah / kuliah, namun suatu “program” yang tertanam di otak bahwa hal-hal yang kurang  mendesak untuk dilakukan saat itu, sebenarnya tidak perlu dilakukan. Ini memerlukan latihan dan komitmen (tekad) dari yang bersangkutan. Apabila hal ini dapat berjalan, semua hal akan tertangani dengan baik dan waktu akan termanfaatkan maksimal.

Articulos relacionados

    6 Responses to “Waktu”

    1. 1
      liswari Says:

      Yupe setuju, dengan sadar peran kita yang multi-fungsional itu sebenarnya awal yang baik untuk mengatur ke depan, yang penting ada prioritas dan kalau sesuatu hal sudah menyita sebagian besar energi, bagian lain nggak bisa dapat banyak perhatian lagi. Makanya marah atau emosi yang gak perlu juga perlu di waspadai karena menguras banyak sekali pikiran, energi dan waktu. Ada kan istilah the more you grumpy the less productive you are.

    2. 2
      Ade Bayu Says:

      @liswari
      Betul… terlalu banyak grumpy gak baik ^_^

    3. 3
      edratna Says:

      Ade, coba lihat betapa orang-orang pintar dan pandai tsb bisa mengatur jadualnya.

      Akhir tahun 1997, saya mendapat pelatihan, kerjasama dengan LM FEUI…pengajarnya: Dorojatun, Sri Mulyani, Miranda Gultom, Anwar Nasution dll…yang saat itu belum terkenal tapi kesibukannya dari pagi sampai tengah malam. Saya sempat bertanya..”Mbak Ani(panggilan bu Sri Mulyani), lha istirahatnya bagaimana?” Karena beliau cerita sering sampai jam 1 malam masih di DPR..beliau menjawab dengan kalemnya…” Ya dimana saja, di mobil, di dalam lift (yang sering kaget saat lift udah sampai lantai tujuan) dsb nya”. Bayangkan pasti beliau-beliau itu sekarang lebih sibuk lagi.

      Lulus IPB dan awal kerja di Jakarta saya mengeluh, teman saya mengomel….”Ah gitu kok mengeluh, lha adikku, pagi kerja jadi sekretaris, malamnya langsung kuliah” … padahal adiknya cewek cantik.

      Pembelajarannya, semakin sibuk dan pandai seseorang, semakin bisa dia mengatur waktunya. Hayoo…coba atur waktu dengan baik.

    4. 4
      Ade Bayu Says:

      @edratna

      ^_^ Iya Bu, terima kasih.. saya terus berusaha ke arah situ (membagi waktu dengan baik)… Mohon nasihat-nasihatnya lagi juga.
      Ohya Bu, mungkin jika berkenan, Ibu bisa cerita pengalamannya dalam pembagian waktu ini. Mungkin juga dikaitkan dengan persiapan pernikahan seperti tema/katagori yang saya suka :D

    5. 5
      KnightDNA Says:

      Lha sampeyan dhewe piye mas? :P

    6. 6
      Ade Bayu Says:

      @KnightDNA
      Nek aku dewe yo jelas ada suatu “program” yang tertanam di otak, cuma mbuh wi.. gung STABLE..palingo jik RC-1 :P

    Leave a Reply

    Designed by Posicionamiento Web | Sponsored by Ganar dinero