Pemahaman karakter pasangan dan sekitarnya

Saya mendapatkan ide menulis ini dari tulisan Ibu Enny yang menjawab pertanyaan saya pada kolom komentar di blog beliau. Disamping itu, ulasan selanjutnya juga ditulis berdasar curhatan teman-teman baik saya yang men-share kabar baik dan kabar buruk permasalahannya.

Relationship banyak jenisnya. Dalam hal relationship antar cowok-cewek pun terdapat berbagai macamnya. Yang dibahas disini adalah suatu relationship yang oleh sebagian sebagian besar golongan disebut sebagai pacaran. Mungkin ada golongan lain yang mengistilahkan dengan definisi mereka sendiri-sendiri yang mana intinya adalah suatu hubungan antara cowok-cewek yang telah disepakati bersama untuk lebih saling mendekatkan diri demi tujuan bersama dan bersifat unik, tanpa diberikan kepada orang lain.

Tujuan dari relationship ini-pun juga dapat bermacam-macam. Ada yang mengatakan ini sebagai proses, just for fun, sebagai kebanggaan / prestige, ibadah, dan sebagainya. Semua itu tergantung pada pribadi dan keimanan masing-masing.

Namun bagi mereka yang menjadikan relationship ini sebagai jembatan menuju pernikahan, maka ada hal-hal yang penting dilakukan agar proses ini mendukung visi dan misinya. Salah satunya adalah pemahaman karakter. Pemahaman karakter siapakah? Menurut saya, karakter pasangan dan sekitarnya. Yang dimaksud sekitarnya adalah teman-temannya, keluarganya, organisasinya, dan sebagainya yang dapat membentuk karakter sang kekasih.

Dalam hal pemahaman karakter pasangan, frekuensi tinggi dalam bertemu belumlah menjamin terwujudnya keadaan saling memahami. Sering kita lihat, ada pasangan yang memanfaatkan waktu bertemunya hanya dengan jalan-jalan, nonton, tertawa-tawa, dan makan. Kegiatan itu akan efektif apabila dilakukan juga sharing baik kabar baik/buruk, adu argumen, atau kegiatan komunikatif lain yang mengkondisikan dapat diketahuinya sedikit demi sedikit karakter, pola pikir, selera humor, dan sifat-sifat intrinsik pasangan. Dengan demikian, semakin sering bertemu, dapat semakin paham terhadap pasangan, bukan malah semakin bingung. Dengan banyaknya interaksi dan komunikasi, akan dapat diketahui bagaimana ngambeknya pasangan, apa yang dibenci pasangan, bagaimana reaksinya kalau marah, apa yang disenanginya, dan sebagainya.

Kemudian, pemahaman karakter tidaklah cukup sampai di situ. Perlu juga diketahui siapa dan bagaimanakah teman-temannya. Sebab, seseorang juga dapat dinilai dari teman-temannya. Apa dan bagaimana kegiatan (organisasi, kegiatan di waktu luang, dsb) dia juga dapat dijadikan media pemahaman pasangan.

Kemudian hal yang tidak kalah pentingnya adalah pemahaman terhadap keluarga pasangan. Pasangan yang tidak berniat serius biasanya berkecenderungan tidak mau kontak dengan orang tua dan keluarga pasangan. Hal ini kebanyakan disebabkan agar dapat mudah melepaskan hubungan. Bagi mereka yang serius dalam hubungannya, dengan memahami keluarga pasangan, akan dapat diketahui juga bagaimana nantinya menyatukan kedua keluarga pasangan tanpa menimbulkan konflik. Sebab, masing-masing keluarga adalah unik dan mempunyai peraturan-peraturan dan norma-norma / nilai yang tidak sama. Dengan saling memahami keluarga pasangan, maka harmoni dapat dibangun.

Bagaimana jika terdapat rejection pada keluarga pasangan? Atau dengan kata lain acceptance pihak keluarga pasangan kurang? Seperti yang terjadi pada salah seorang teman saya, dimana permasalahan terlihat pada cara pandang dan persepsi antara A dan keluarga pasangannya. Hal ini memerlukan penyikapan yang bijak.

Bagi segolongan tertentu, acceptance ini dapat dipengaruhi oleh faktor suku, harta, dan nasab / keturunan, dan cara pandang. Misalkan, orang tua A tidak suka jika anaknya mendapatkan pasangan dari suku X, atau orangtuanya tidak suka anaknya mendapat pasangan golongan proletar, bisa juga orangtuanya tidak berkehendak anaknya menikah dengan keturunan keluarga B karena sudah bermusuhan turun-temurun, serta dapat juga terjadi orangtua A melarang anaknya menyukai orang yang (dianggap) berpaham F, G, atau H karena berbeda dengan cara pandang dan nilai yang dianutnya.

Apabila kondisi ini terjadi, perlu penyikapan yang tidak tergesa-gesa, pengamatan yang jeli, kesabaran, keikhlasan, dan keiinginan bersama untuk memperbaiki kondisi. Penyikapan yang tidak tergesa-gesa dimaksudkan agar kita tidak salah dalam melihat permasalahan secara global sebab bisa jadi justru kesalahan ada pada diri sendiri yang mungkin telah berbuat kesalahan / tidak sopan menurut standard umum yang tidak disadari dan fatalnya dingat-ingat oleh orang lain. Kemudian bisa jadi karena memang sifat/watak/perangainya memang tampak memusuhi padahal hatinya tidak (sangan di luar, lembut di dalam). Pengamatan yang jeli perlu dilakukan di sini dengan memperhatikan semua aspek meliputi tingkat pendidikan, pola pikir, paham / isme yang dianut, dan sejenisnya. Kesabaran diperlukan agar tidak mudah menyerah dan keikhlasan dilakukan untuk menghilangkan sifat mengeluh.

Hal terpenting dalam hal ini adalah keinginan kedua pasangan untuk memperbaiki kondisi ini dengan usaha yang nyata seperti lobi-lobi, diskusi, dan sebagainya.

Terakhir, jika memang pada akhirnya mata (kita/mereka) dibukakan dan dapat melihat permasalahan yang sebenarnya, maka hendaknya semua pihak dapat menerima dan mengerti apa yang kemudian harus dilakukan.

Articulos relacionados

    11 Responses to “Pemahaman karakter pasangan dan sekitarnya”

    1. 1
      edratna Says:

      Ade,
      Tulisanmu hebat euy…udah cocok nih.
      Btw, ada pesan saya, bagi teman-teman yang lulusan ITB, jauh lebih sulit untuk menilai seorang calon, apakah dia cinta benar pada seorang Ade Bayu, atau karena berharap nantinya hidup akan pasti nyaman. Entahlah stigma ini tertempel ketat pada anak-anak kampung gajah ini… padahal kenyataan nggak seperti ini.

      Menilai karakter…saya ada posting khusus tentang ini, karena bagian pekerjaanku dulunya terkait untuk menilai calon, kira-kira seperti apakah mereka nantinya kalau diterima. Tapi tulisan tsb lebih diarahkan untuk menilai klien perusahaan…baca di http://edratna.wordpress.com/2006/12/15
      /menilai-karakter-bisakah. Karakter ini tak hanya sekedar baik, tapi bagi seorang calon pasangan juga dibutuhkan karakter yang kuat, fokus pada tujuan awal berumah tangga, bisa memotivasi pasangan dan anak, dan achievment drive nya tinggi. Saya kenal pasangan yang dulu dinobatkan pasangan pilihan teman-temannya, cowoknya ITB dan ceweknya dari PTN terkenal juga di Bandung…. ternyata sempat perkawinan mereka goyah karena kurang kuatnya karakter dalam menghadapi gelombang kehidupan (bukan selingkuh lho).

    2. 2
      Ade Bayu Says:

      @edratna

      Ibu,
      hehehe.. belum seberapa jika dibandingkan ulasan Ibu.. saya masih perlu banyak belajar ^_^

      Wah, kalau itu saya rasa hanya dia dan Tuhan yang bisa menjawabnya. Kalau saya sih ikhlas saja.

      Saya sudah membaca posting Ibu sebelumnya itu (http://edratna.wordpress.com/2006/12/15
      /menilai-karakter-bisakah)
      Wah, memang benar Bu, dalam menilai karakter (pasangan dan sekitarnya) memang perlu juga melihat Perilaku/sifat sehari-hari, Komitmen terhadap janji, dan Penilaian pihak ketiga. Itu sudah mencakup banyak hal kalau menurut saya.

      Perubahan karakter-lah yang perlu kita waspadai memang Bu. Menurut saya, ini nantinya kembali kepada itikad baik, keimanan, dan kesabaran masing-masing. Wah, jadi ada ide untuk menulis ni..
      nanti Insyaallah akan menulis tentang ini ^_^
      terima kasih atas idenya Bu.

    3. 3
      elgafitri Says:

      wah,setuju de.
      yg penting itu adlh saling memahami karakter dan satu visi.
      kalo yg satu serius, yg satu main2 kan repot..

    4. 4
      Ade Bayu Says:

      @elgafitri
      Betul Fit..
      Tapi kadang mengukur taraf keseriusan itu susah ^_^

    5. 5
      Teta Says:

      hmmm…ic ic ic…
      aku tengah melakukan apa yg kamu tulis diatas ini De…
      Thx atas tulisannya…bermanfaat..^_^

    6. 6
      Ade Bayu Says:

      @Teta
      ^_^ itu semua prosesnya panjang Ta. Coba kunjungi blog Ibu Eny, beliau banyak pengalaman.
      http://edratna.wordpress.com/

    7. 7
      Nanta Says:

      @ibu endratna

      Bisa jadi juga bu karena punya cap gajah..

      de.. tips yang bagus.. tapi ak durung entuk pasangan e :(

    8. 8
      Ade Bayu Says:

      @Nanta
      Ngoprek terus sih… :D

    9. 9
      poppy Says:

      Setuju sama apa yg ade tulis diatas. Menurutku setiap pasangan itu intinya “SALING”.

      Contohnya: saling bisa memberi dan menerima, saling pengertian, saling mengisi, saling mendukung, dan saling2 yang lainnya :D

    10. 10
      poppy Says:

      eh ralat: maksudku setiap pasangan itu HARUS BISA “Saling” karena keberhasilan suatu “Relationship” itu pada terletak pada dua individu tersebut.

      Salam kenal :)

    11. 11
      Ade Bayu Says:

      @poppy
      Setuju sama Mbak Angelina, memang ke-saling-an adalah salah satu pondasi dalam suatu relationship agar tidak pincang ^_^
      Terutama saling percaya dan saling jujur.

    Leave a Reply

    Designed by Posicionamiento Web | Sponsored by Ganar dinero