Bagi Peran
Hampir setiap manusia mempunyai lebih dari satu peran dalam hidupnya. Perkecualian ini terletak pada manusia yang merasa bahwa dia hidup berperan untuk dirinya sendiri saja tanpa mengenal perannya terhadap Tuhan (mungkin juga tidak percaya pada Tuhan). Tulisan ini tidak membahas kasus khusus tersebut.
Peran tersebut cenderung bertambah seiring bertambahnya usia sampai pada titik tertentu. Setelah seorang manusia mempunyai kesadaran atas keberadaan dirinya, dia mempunyai telah mempunyai dua peran, sebagai makhluk pribadi (berperan untuk diri sendiri) dan sebagai anak. Peran sebagai anak ini bisa terhadap orang tuanya atau terhadap orang lain yang mengasuhnya. Kemudian, setelah mengenal lingkungan sosial sekitar, akan bertambahlah peran sebagai teman. Setelah menginjak usia pendidikan, bertambah pulalah perannya sebagai seorang murid. Di sana, mungkin didapatkan peran sebagai ketua kelompok, utusan sekolah, dan sebagainya yang menyebabkan makin hari, makin banyak peran yang di dapat. Mungkin peran itu akan hilang satu, namun cenderung segera digantikan peran yang lain sampai manusia tersebut tutup usia.
Bagi yang pernah mempelajari statistik, kita mengenal adanya Distribusi Normal atau Distribusi Gauss, suatu distribusi normal yang memiliki rata-rata nol dan simpangan baku satu. Atau dengan bahasa mudahnya adalah suatu kurva mirip lonceng dimana frekuensi (bisa mewakili jumlah) paling tinggi terletak di daerah tengah. Grafik menaik pada suatu titik tertentu, kemudian turun lagi seperti gambar berikut.
![]()
Berkaitan dengan tulisan ini, ada suatu rentang masa pada manusia dimana dia mendapatkan banyak sekali peran yang biasanya terjadi pada usia-usia produktif manusia. Tentu saja tulisan ini diasumsikan manusia tersebut dianugerahi umur panjang. Bisa jadi juga nilai puncak tidak terjadi di tengah-tengah melainkan agak ke kanan/kiri, namun pada umumnya tidaklah terlalu ekstrim.
Penambahan peran berbanding lurus dengan penambahan kebutuhan istirahat dan pasokan energi. Namun, penambahan peran tersebut tentu saja tidak diiringi dengan penambahan waktu bagi manusia. Apakah manusia itu mempunyai banyak atau sedikit peran, waktunya selalu konstan (24 jam/hari, 7 hari/minggu). Oleh karena itu, manusia perlu melakukan suatu cara untuk mengatur peran-peran yang dipunyainya agar tidak saling merugikan.
Seperti kita ketahui, manusia adalah makhluk yang terbatas, mempunyai keterbatasan, dan bisa membatasi. Seperti pada traditional tripple constraint yang biasa diajarkan pada mahasiswa manajemen, manusia mempunyai juga 3 batasan itu, yakni time (waktu), scope (cakupan), dan cost (energi, usaha, pengorbanan).
![]()
Satu sisi dari segitiga itu tidak bisa diubah tanpa menggubah yang lain. Artinya, apabila salah satu faktor terganggu, faktor yang lain akan terganggu juga. Hal ini tentu saja mempengaruhi kualitas yang dihasilkan. Oleh karena itulah perlu upaya-upaya dari manusia untuk melakukan pembagian peran tersebut secara efektif agar tercapai suatu kondisi yang selaras.
Sebagai contoh terdekat adalah kasus saya sendiri dimana saat ini saya mempunyai peran sebagai mahasiswa tingkat akhir yang harus segera menyelesaikan Tugas Akhirnya agar cepat lulus karena ditanya orang tua (peran sebagai anak) dan tetangga (peran sebagai makhluk sosial). Di samping itu, saya juga magang di suatu kantor kampus saya (peran sebagai pekerja paruh waktu), mengerjakan beberapa project kecil-kecilan (peran sebagai pekerja bayaran), dan tak lupa juga peran sebagai orang yang mempunyai kedekatan terhadap seseorang. Di situpun, ada juga peran yang belum disebutkan diantaranya peran sebagai teman, kakak, adik, dan sebagainya. Saya rasa, semua orang pernah atau akan mempunyainya walaupun ada beberapa perbedaan dari beberapa bentuk dan segi.
Saya mengatasinya dengan suatu penjadwalan yang saya sadari sepenuhnya belumlah efektif karena saya kadang lupa. Belum lagi karena suatu keadaan out of control sleep. Dimana waktu bangun akan bergeser dan akhirnya menggeser alokasi waktu lain secara Catastrophic, yang tentu saja perlu upaya ekstra agar tidak terjadi suatu Catastrophic Failure. Saya pribadi masih perlu banyak belajar dan masukan untuk melakukan hal ini.
Mungkin pembaca bisa juga berbagi pengalaman tentang hal ini, mengingat pembaca yang lebih berpengalaman dari saya tentulah mempunyai peran lain yang lebih berat seperti sebagai pimpinan, suami/istri, orang tua, pekerja full time, mahasiswa S2 keatas, public figure, dan sebagainya.

















Peran seseorang berubah sesuai umur, tingkat tanggung jawabnya, dan setiap perubahan kadang menyebabkan trauma, terutama jika perubahan peran tadi berupa pemunduran peran (dari peran yang menantang, dipindahkan ke tempat lain yang dianggap orang lain tak menantang). Perubahan peran jika disikapi dewasa akan membuat kita memahami, bahwa perubahan tadi diperlukan agar kita belajar banyak hal.
Bagi wanita perubahan peran lebih banyak, yang bisa memunculkan depresi. Seperti perkawinan, yang berubah dari biasanya seorang yang mandiri, harus meladeni suami (maklum Indonesia termasuk patriarchal). Kemudian hamil sampai dengan melahirkan, jika tak hati-hati juga dapat menyebabkan depresi. Belum jika harus bekerja di luar rumah, namun tetap harus bertanggung jawab atas kelancaran rumah tangganya(maklum di Indonesia kesalahan dalam kelancaran rumah tangga, masalah anak-anak cenderung disalahkan ibu nya)….inipun harus disikapi dengan baik, dan harus ada kesepakatan suami isteri….karena yang satu bisa merasakan diabaikan oleh lainnya.
Dan nanti paling berat adalah masa pensiun….saya awalnya juga sangat kawatir, dari biasa kerja keras dari pagi sampai malam, terus menganggur. Syukurlah senang bebersih rumah, menjahit, menanam bunga….dan ternyata saya mendapat tawaran pekerjaan lagi, yang tak terlalu mengikat. Dan ternyata…masa pensiun lebih menyenangkan (kecuali badan yang sudah tua, dan cepat lelah)…bisa tetap memperoleh penghasilan (walau sedikit), punya waktu luang, dan bisa mengatur waktu sendiri untuk bekerja atau tidak. Jika masih kurang, bisa menambah kesibukan lainnya.
Intinya, semua harus dipersiapkan, walau tetap harus dijalani dengan hati senang, ibarat air yang mengalir.
May 12th, 2008 at 7:15 am@edratna
Iya Bu, kadang perubahan itu memerlukan penyikapan yang justru tidak gampang.
Saya merasa mesti belajar pada mereka yang lebih berpengalaman dari saya, salah satunya dari Ibu Enny sendiri, karena bukan tidak mungkin nantinya saya mengalami apa yang ibu telah sebutkan.
Antisipasi kemungkinan.. itu adalah hal yang selama ini saya terus belajar..
Terima kasih atas sharingnya juga Bu ^_^
May 12th, 2008 at 5:45 pmsungguh, saya mendapat pelajaran yang berharga setelah membaca artikel ini!
June 3rd, 2008 at 1:56 pm@ciput
June 5th, 2008 at 2:20 pm^_^ alhamdulillah.. semoga apa yang saya tulis bisa memberi manfaat.