Siliwangi

Dua jam yang lalu ada 4 orang tiba-tiba masuk (nyelonong, masuk tanpa ijin) ke kantor saya. Saya tanya, “cari siapa?”. Eh, dia malah ngomong Inggris, “Where is Siliwangi?”. Ternyata mereka orang Taiwan yang kesasa.

Mereka mencari Lapangan Siliwangi yang terletak di Jalan Manado tapi malah datang ke Lapangan Sasana Olahraga Ganesha (SORGA, tapi lebih dikenal sebagai Sabuga), yang memang terletak di daerah yang dinamakan Siliwangi juga.

Usut punya usut, ternyata keempat orang tadi datang ke Sabuga naik angkot. Pantas saja, mereka tidak bisa bahasa Indonesia, bahasa Inggris juga masih patah-patah, kok sudah berani naik angkot. Jadi, sopir angkot tidak bisa disalahkan dalam kejadian ini karena kemungkinan besar, sopir angkot menangkap kata-kata “Siliwangi” dan “Tenis”, didukung mereka membawa raket dan Sabuga ada di jalur trayek dia, jadi tidak salah jika dia menyimpulkan mereka mau ke Sabuga. Untung saja mereka cuma latihan, karena pertandingan resminya besok.

Saya heran juga, masak anggota kontingen dilepas seperti ini. Namun, pembicaraan saya dan mereka (sebenarnya dengan 2 orang saja, karena yang 2 orang tidak bisa bahasa Inggris) banyak bicara masalah Taksi. Karena saya tidak begitu hapal jalur angkot, maka saya telponkan mereka suatu Taksi. CS bilang disuruh menunggu 10 menit dan itu saya sampaikan mereka. Ternyata taksi tidak datang-datang dan mereka tidak sabar, OK saya telponkan kembali dan kali ini CS bilang sedang tidak ada yang dekat situ -_-. Hal ini saya sampaikan lagi ke mereka ditambah keterangan bahwa sekarang weekend dan pasti susah cari taksi. Lalu saya teleponkan Taksi yang lain, yang oleh CS-nya dibilang suruh nunggu 15 menit lagi.

Kontingen ini rupanya bukan tipe orang sabar, selalu saja menanyakan berulang-ulang, “how long we must wait?”. Saya bilang berulang-ulang juga, “Taxi Customer Support has said that taxi will comehere in about 15 minutes, please be patient. You will be there in about 15 minutes too”. Rupanya, kata-kata “about” kurang bisa mereka terima, mereka minta exact time, dan malah mereka malah minta naik angkot lagi.

Saya persilakan tapi saya bilang bahwa angkot ke sana untuk 1 x naik bukan dari sini naiknya, karena jalurnya memang tidak di sini. Setahu saya, untuk ke sana harus naik Dipati Ukur - Panghegar, dimana itu harus naik dari depan ITB atau ke Unpad dulu, dan saya sedang banyak kerjaan juga. Mereka malah tanya-tanya tentang per-angkot-an yang saya justru kurang paham walau sudah 4 tahun di Bandung. Itulah pertimbangan saya memanggilkan taksi disamping juga agar tarif yang mesti mereka bayar juga pas dan pasti. Tapi berkali-kali mereka nggriseni (bertanya berulang-ulang, resek) sehingga hampir saja saya kesel. Saya cuma bilang mereka agar be patient karena ini sedang weekend. Akhirnya taksi datang telat 10 menit. Hal yang menurut saya wajar, tapi tidak bagi mereka.  Saya sampaikan ke sopir agar mengantarkan mereka ke Stadion Siliwangi, Jalan Manado untuk berlatih tenis dan Pak Supir jelas sudah paham. Dua orang yang tidak mengerti bahasa Inggris bilang thank you, sedang yang bisa bahasa Inggris ngeloyor saja begitu taksi datang.

Masalah ke-siliwangi-an ini bisa menimbulkan miss-komunikasi dalam hal-hal tertentu karena ada Jalan Siliwangi, daerah Bumi Siliwangi, dan Lapangan Siliwangi, Kodam Siliwangi, dan Lebak Siliwangi. Memang, Siliwangi mempunyai arti besar bagi Bandung sehingga tidak aneh juga banyak nama Siliwangi. Bagi yang beriminat tentang sejarah nama Siliwangi bisa dimulai dibaca dari wikipedia.

Articulos relacionados

    6 Responses to “Siliwangi”

    1. 1
      Juliach Says:

      Kalo di sini, semua transportasi umum ada time schedulenya tepat lagi (paling telat 1/2 menit). Jika charter taksi, mereka pun datangnya tepat, bahkan sering lebih awal 1 atau 2 menit.

      Pantas saja, istilah “about” itu ngak mempan utk mereka.

    2. 2
      Ruth Says:

      Ck ck ck… orang Taiwan yang aneh. Emang suka gitu mereka mah. Emang sih, waktu itu penting, tapi reaksinya suka rada lebay. Sampe2 nyebelin. Masih untung dipanggilin taksi… kalo saya sih, udah tak tinggal.. hehe

    3. 3
      Ade Bayu Says:

      @Juliach
      Iya sih Mbak, idealnya memang harus on-time, dan standard negara saat ini kita memang masih jauh dibanding Perancis. Sebaiknya di Bandung sudah mulai diterapkan juga monorel, kebetulan kemaren dapat tugas kuliah tentang itu juga. Cuman, ya mesti dipikirkan juga, angkot pasti ikut terkena imbasnya. Lagi-lagi masalah sosial dan politik bakal ikut terangkat.

      @Ruth
      Iya, dalam bahasa jawanya = “nggriseni”. Hampir saja saya habis kesabaran, tapi tiba-tiba teringat pelajaran PPKn bahwa Bangsa Indonesia adalah bangsa yang ramah. Jadi ya sabar dulu saja.. Hehehehe. Kali saja suatu saat kalau keturunan saya kesulitan di negeri orang akan ada yang menolong.. ^_^

    4. 4
      Rita Says:

      Hihih… nekad jg ya naik angkot :D
      Emang si mas ya, kalo Expatriate, contoh yg ada disini, amat konsisten mengenai waktu. Kalo ada acara mereka pasti hadir “on time “banget”!”. Kalo mau lat 10 menit misalnya, pasti ada konfirmasi, dan pasti datang lat tepat 10 menit….Kadang bingung aja mikirnya, sepertinya mereka slalu hafal jarak tempu hehe…..Sedangkan teman2 pribumi, kalo undangan 8.30, pasti masuk gedung jam 9-an (itupun masih sembilan-an loh, berarti bahkan ada yg datang lewat dari jam 9 tanpa pemberitauan):D

    5. 5
      nia Says:

      Hmm ada-ada aza yach…
      o yach makacih udah mampir…

    6. 6
      Ade Bayu Says:

      @Nia
      sama-sama.. terima kasih sudah mampir ^_^

    Leave a Reply

    Designed by Posicionamiento Web | Sponsored by Ganar dinero