Multifokus
Belakangan ini, di Indonesia dijumpai beberapa tema besar yang mewarnai kehidupan sosial, politik, berbangsa, dan bernegara. Ada beberapa kasus besar yang datang silih berganti menghiasi headline beberapa media massa ternama. Sebut saja perseteruan dengan negara tetangga, fenomena kenaikan BBM oleh Presiden SBY, Tragedi Monas dan Isu FPI-Ahmadiyah, Tragedi UNAS, serta Persidangan Artalyta dan Jaksa Urip. Belum lagi ditambah adanya beberapa event olahraga besar seperti Indonesian Super Series dan Euro Cup 2008. Apalagi di daerah-daerah tertentu sedang ada pesta demokrasi berupa Pilkada yang mungkin diantaranya juga mengandung konflik.
Kasus satu belum selesai, datang kasus yang lain. Saat ada hal penting dan membutuhkan perhatian ekstra, justru perhatian menjadi teralih ke event olahraga. Begitulah akhir-akhir ini yang terjadi di masyarakat Indonesia. Hal ini mungkin memang terjadi secara kebetulan saja, namun bukan tidak mungkin beberapa diantaranya ada yang sengaja dibuat untuk maksud tertentu. Dan menurut saya ini terkait dengan masalah fokus perhatian massa.
Otak manusia, pastilah mempunyai keterbatasan. Otak mempunyai batas maksimal aktifitas yang bisa ditangani dalam satu waktu tertentu. Demikian pekerjaan yang bisa ditangani secara multitasking, otak juga mempunyai batasan-batasan. Batasan ini mungkin berbeda antara satu orang dengan yang lain, namun pastilah ada batas maksimum dimana semua manusia di dunia tidak dapat mencapainya. Detail mengenai hal ini, dokterlah yang lebih ahli daripada saya.
Sebagai contoh, kita duduk di depan komputer melakukan tugas mengetik (atau coding misalnya), kemudian di depan komputer/laptop ada TV yang sedang memutar acara kesayangan (Piala Eropa, Kontes Menyanyu, dsb), kemudian kita juga memutar musik untuk didengarkan, dan di sekeliling kita ada adik, hewan piaraan, atau makhluk lain yang berkeliaran, ditambah beberapa pikiran yang menggelayuti benak kita. Semakin banyak aktifitas yang ditangani, otak pastilah cepat lelah. Fokus akan terpecah-pecah dan pekerjaan tidak dapat dilakukan maksimal.
Bagaimana jika hal semacam ini dikenakan pada massa? Untuk memecah fokus massa, maka dibuatlah banyak kasus sehingga penanganan masing-masing kasus tertentu menjadi tidak efektif dan perhatian menjadi kabur. Diciptakanlah trend-trend sesaat untuk mengundang perhatian dan euforia khalayak dengan harapan bahwa setelah itu fokus sebelumnya menjadi sedikit dan makin terlupakan karena setelah trend satu usai, dimunculkan trend yang lain. Memori tempat penyimpanan data kejadian sebelumnya pelan-pelan akan terkikis dan massa kehilangan ketajamannya.
Apa yang harus dilakukan sebenarnya adalah perlunya suatu badan atau tokoh yang berfungsi sebagai kontrol penanganan kasus-kasus (kasus negara) yang belum tuntas. Kontrol tersebut dilakukan dengan pendataan kejadian-kejadian secara historis dan memberi status pada tiap-tiap kejadian tersebut. Pengklasifikasian juga perlu dilakukan untuk memudahkan penanganannya. Kontrol ini dilakukan secara terpusat dan menyeluruh. Jadi tidak boleh penanganan kasus agama ditangani badan agama saja, kasus BBM ditangani pakar tertentu saja, dan sebagainya. Memang, dalam penanganan masing-masing kejadian haruslah oleh pakar di bidangnya agar komentar-komentarnya bersifat membangun, namun untuk pengkoordinasian penanganan kasus negara diperlukan suatu tim yang terdiri dari sekelompok orang tertentu yang berkemampuan melakukan manajemen permasalahan.
Dengan demikian, diharapkan semua kasus negara kita dapat diselesaikan satu persatu dan terpantau. Apa yang ada selama ini masih terpecah-pecah dan terkesan jalan sendiri-sendiri.

















wah…ngantuk2 baca postingan berat
June 23rd, 2008 at 8:55 ammusti dibaca dua kali negh
oh…mengerti..mengerti sekarang
tapi masalahnya, dibentuk badan khusus kalau masih terlalu banyak kepentingan yang ikut campur ya repot juga…
June 23rd, 2008 at 8:59 ammisal KPK ituw..
*komennya udah nyambung kan?
Iya bener… acara olahraga terutama Euro 2008, bener2 menghibur masyarakat. Aku sih biarpun nonton Euro tetep aja inget kalo BBM naik, harga semua mua juga naik…hehehe
June 23rd, 2008 at 12:12 pm@wennyaulia
waduh Mbak ^_^ bukanya berat, mungkin karena penyampaian saya yang suka belibet… hehehehe..
Nah, itu dia Mbak.. pada akhirnya kembali pada hati nurani juga. Dan ini tentu saja sudah kalau bentrok dengan kepentingan dan kebutuhan -_-
@nina
June 23rd, 2008 at 5:57 pmIya Mbak, bagi anak kos seperti saya, hal itu tentu saja lebih terasa, apakah itu inget atau tidak. Hehehehe
Memang masalah selalu datang sili berganti, namun diantara sekian masalah pasti harus ada yang diprioritaskan untuk diselesaikan!
June 24th, 2008 at 6:31 pmAtau sperti yg aku baca dibeberapa opini teman2, justru ini merupakan sebuah strategi untuk mngalihkan perhatian masyarakat, sebut lah dari kenaikan BBM, beralih ke hingar-bingarnya tragedi monas, dll ???
June 24th, 2008 at 7:24 pm@ciput
Benar, dan hal yang membingungkan kadang adalah bagaimana mengenali yang benar-benar paling diprioritaskan -_-
@Rita
June 26th, 2008 at 4:32 pmIya Mbak, belum lagi kalau kita memasukkan variabel intelijen di situ. Maka bisa jadi yang terjadi benar-benar bersifat intelijen. Who knows *_*
mmmm…ya..kalo saya lebih melihatnya sbg political media..
kata seorang kawan, itu politik ikan lele. makin keruh airnya makin banyak makanannya..wah.
lam kenal
http://defickry.wordpress.com
July 3rd, 2008 at 5:49 am