Persepsi

Persepsi dapat diartikan sebagai cara pandang suatu makhluk (termasuk manusia) terhadap suatu objek. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Online, “persepsi” diartikan sebagai:

per·sep·si /persépsi/ n 1 tanggapan (penerimaan) langsung dr sesuatu; serapan: perlu diteliti — masyarakat thd alasan pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak; 2 proses seseorang mengetahui beberapa hal melalui pancaindranya;
me·mer·sep·si·kan v membuat persepsi tt: kewajiban seorang atasan akan menonjol jika bawahan ~ atasannya sbg orang yg memikirkan dan memperjuangkan kepentingan bawahan

Persepsi bersifat sangat subjektif, tergantung dari cara pengolahan makhluk (untuk selanjutnya dibatasa untuk manusia saja) terhadap informasi-informasi yang dia terima. Cara pengolahan ini tergantung dari pengalaman, kecerdasan, lingkungan, dan kadang emosi dari manusia itu sendiri. Artinya, untuk kejadian atau fenomena yang sama, akan dapat dijumpai beberapa alternatif penyimpulan terhadap maksud yang dikandung dari fenomena tersebut. Dan terkadang, dua penyimpulan dari dua orang manusia tampak sama-sama benar kendati jika ditelaah lebih jauh, kedua penyimpulan itu saling berlawanan, akan tetapi kenapa jika ditinjau satu persatu tampak semua benar? Padahal kita semua tahu bahwa apabila ada dua klaim benar terhadap sesuatu kejadian yang unik, maka salah satu atau dari kedua klaim itu pasti salah. Kejadian unik yang dimaksud ini dapat kita temui dalam contoh sederhana pada keadaan kasus alibi seseorang, apabila A menyatakan C ada di tempat X saat pembunuhan terjadi, dan B menyetakan C ada di tempat Y pada saat pembunuhan terjadi, maka salah satu dari A atau C pasti salah, dan kemungkinan A dan C sama-sama salah.  Sebab, kita semua tahu bahwa seseorang tidak dapat berada di dua tempat dalam waktu yang sama (tentu saja di sini tidak dibahas ilmu ghaib). Kesalahan A dan atau C tidak mesti berarti bahwa itu kebohongan, bisa jadi karena salah pembacaan waktu, faktor lupa, dan sebagainya (apabila A dan C bersungguh-sungguh jujur). Dari sini saja, persoalan tentang persepsi sudah muncul.

Suatu bentu persepsi

Kemudian, bagaimana apabila suatu fenomena dapat mempunyai lebih dari satu “state” atau keadaan? Contoh paling sederhana, A mengaku istrinya X, dan B juga mengaku istrinya X, maka hal ini adalah boleh karena sebagian kaum di bumi ini membolehkan adanya poligami. Tapi diantara semua, pastilah dapat kita amati suatu hal uang unik, dimana kemungkinan “state” adalah satu. Dalam contoh tersebut, yang menjadi istri pertama tentulah hanya salah satunya atau tidak keduanya (jadi ada istri lain). Bagaimana jika ada pertanyaan, “bisa saja pernikahannya bersamaan?”. Hal ini dapat dijawab dengan beberapa bantahan:

  1. Andaikan bersama, tentulah A mengetahui B
  2. Apabila A tidak mengetahui B, pastilah ada jeda antara ijab kabul yang satu dengan yang lain

Dan dari situ, persepsi manusia akan bermain lagi dalam memahami fenomena seperti itu.

Dan bagaimana jika keadaan yang kita yakini hanya 1 solusi atau state, tapi tanpa kita sadari (bisa jadi karena keterbatasan kita) ada lebih dari 1 state? Contoh mudah dapat kita ambil dari sederetan bilangan berikut:

2, 4, 8, ?

Maka, biasanya manusia dengan cepat menebak bahwa angka selanjutnya adalah 16, yakni dengan pola “dua kali sebelumnya” alias nilai suku ke-n bernilai 2 pangkat n. Tentu saja ini berdasar dan dikatakan benar (lebih tepat dikatakan “bisa jadi”) sebab, kita bisa juga mengisinya dengan angka 10. Lho?

Pengisian angka 10-pun mempunyai justifikasi untuk membuat state itu benar dengan pola “suku genap bernilai suku sebelumnya ditambah 2, sedangkan suku ganjil bernilai suku sebelumnya ditambah 4″. Dan tentu saja, akan banyak formulasi-formulasi lain yang bisa digunakan untuk membuat itu benar.

Ini adalah suatu contoh bagi kita bahwa untuk memahami persoalan sehari-hari, persepsi saja tidaklah cukup, pengalaman-pun juga belum cukup, ditambah dengan keilmuan-pun juga masih dapat dikatakan belum cukup. Lalu harus bagaimana? Yang perlu dilakukan adalah selalu cermat dan waspada terhadap hal-hal yang telah kita yakini benar, karena bisa jadi kebenaran yang kita yakini itu bukanlah kebenaran yang sesungguhnya, atau bisa jadi kebenaran itu tidaklah unik, bahkan mungkin ada kemungkinan lain yang tidak kita duga sebelumnya.

Semoga kita diberi kemampuan untuk lebih cermat dalam memahami setiap makna.

Articulos relacionados

    6 Responses to “Persepsi”

    1. 1
      Rita Says:

      Persepsi= berbagai cara pengolahan informasi oleh “manusia” yang mencetuskan berbagai kesimpulan.
      Untuk sebuah persepsi sejatinya melalui penalaran yang ditunjang oleh perpaduan pengalaman,kecerdasan, lingkungan (adat,tradisi), emosi(sensitifitas, bijak)dan dari hasil formulasi berbagai sudut pandang yang berbeda.

      Kalau gitu, Persepsi contentnya berupa berbagai sudutpandang/pe-makna-an,cara,sikap yang cermat dan waspada terhadap suatu hal/masalah

      “Pemerintah sekarang tidak “capable” karena “menaikkan harga” bbm, kira2 persepsi ini udah sah blom ya?
      (biar saat pemilihan 2009 kita bisa menetukan pilihan) hehe :D

    2. 2
      Ade Bayu Says:

      @Rita
      Wah2.. kalau berkenaan dengan masalah politik, pastilah persepsi-persepsi itu akan saling bentrok.
      Persepsi rakyat, persepsi DPR, persepsi parpol oposan, persepsi parpol pendukung, akan tampak saling berlawanan, tapi kalau ditinjau sendiri-sendiri memang bisa ada benarnya..
      Mbulet *_*
      Pilihan selain berdasar persepsi, saya rasa (persepsi lagi), juga berdasar hati nurani (bukan salah satu nama parpol), fanatisme, dan pengalaman sejarah.

    3. 3
      ciput Says:

      Bagaimanapun bentuk persepsi! positif thinking perlu dikedepankan!

      Ade gimana ! udah lulus atau sedang TA ?

    4. 4
      Ade Bayu Says:

      @ciput
      Yup, sampeyan benar ^_^
      Ini sedang nunggu sidang malah *_* lama…

    5. 5
      masciput Says:

      Moga-moga cepet lulus!

    6. 6
      Ade Bayu Says:

      @masciput

      Matur suwun Mas ^_^

    Leave a Reply

    Designed by Posicionamiento Web | Sponsored by Ganar dinero